Penyang

Sejak masa lampau, masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib supranatural dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi demikian diindikasikan dengan banyaknya penggunaan benda hidup maupun mati yang berujuan untuk keperluan magis. Beberapa contoh benda yang memiliki kekuatan supranatural tersebut antara lain taring-taring, batu-batuan, botol-botol kecil berisi minyak khusus dan lain sebagainya.

Penyang Dayak, Penyang Suku Dayak KaltengSalah satu rupa jimat yang dipercaya dapat memberi kelebihan magis pada pemakainya adalah "Penyang". Benda ini umumnya terdiri atas sejumlah taring, gigi, kuku atau patung kecil yang dirangkaikan sedemikian rupa. Penggunaannya bisa dikalungkan maupun diikatkan pada pinggang pemakainya. Bahkan, seing pula Penyang diikatkan ke senjata (mandau, sipet atau sumpit dan lunju atau tombak) dengan maksud supaya senjata tersebut menjadi lebih sakti.

Bentuk magis yang paling menonjol dari penggunaan Penyang adalah untuk kekebalan bagi si pemakai Penyang terhadap serangan senjata, racun maupun perbuatan-perbuatan magis yang dikirim secara gaib oleh pihak musuh. Tak heran, para dukun maupun ksatria Suku Dayak di masa lalu terbiasa menyimpan satu atau lebih rangkaian Penyang.

Khasiat penggunaan Penyang yang lain adalah untuk mengobarkan semangat ketika hendak beperang. Penyang ini juga dipercaya dapat membantu proses pengobatan orang sakit, menolak bala, menolak gangguan makhluk halus dan lainnya.

Hingga saat ini, kepercayaan terhadap keramat dari benda bernama Penyang ini masih sangat melekat dalam budaya Suku Dayak, terlebih mereka yang tinggal di pedalaman. Penyang bahkan merupakan simbolisasi keberanian Suku Dayak sehingga mempermainkan atau menyepelekan Penyang akan mendapat hukuman berat. Di masa lalu, mempermainkan Penyang sama dengan penghinaan terhadap Suku Dayak secara keseluruhan layaknya perbuatan membunuh kepala suku. Hukumannya adalah hukuman mati.

Salah satu koleksi Penyang yang terdapat di Museum Negeri Kalimantan Tengah "Balanga", berasal dari Kabupaten Kapuas. Ukurannya sekitar 60 cm dan diperoleh melalui penyerahan dari bidang Prasejarah dan Kebudayaan sekitar tahun 1990.

Sumber : Katalog Museum Negeri "Balanga" Kalteng

Artikel Dayak Pos Lainnya Berdasarkan Kategori



0 komentar:

Poskan Komentar

 

Dayak Pos Online Copyright © 2009