Sopir Strada Menyerahkan Diri Takut Setelah Mendengar Berita via FB

MITSUBISHI PENABRAK IRNA-Mobil Starada warna merah yang ditinggal oleh sopirnya usai menabrak Irna Lesy Yora (21) di Desa Lahei. Dan sang sopir sempat melarikan diri sampai ke Palangka Raya, dan pada Selasa sekitar pukul 17.00 Wib kemarin sudah menyerahkan diri ke Mapolres setempat.(Dayak Pos/ist)

Muara  Teweh, Dayak Pos

Ketakutan mendengar berita bertubi-tubi di media online dan facebook (FB), akhirnya Muhammad Amin Reihan (53) sopir Strada penabrak Irna Lesy Yora (21) menyerahkan diri ke Mapolres Barito Utara (Barut). Tersangka diantar keluarganya, Selasa (11/9) sekitar pukul 19.00 WIB.

Kapolres Barito Utara AKBP Dostan Matheus Siregar SIK melalui Kasat Lantas Polres Barito Utara AKP Zulyanto Leonardi Kramajaya didampingi Kepala Unit Kecelakaan Aipda Abdul Rahman menjelaskan kepada wartawan, tersangka MA adalah warga Desa Muara Untu, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya menyerahkan diri kepada polisi setelah berembuk dengan keluarganya di Palangka Raya. “Dia ketakutan, setelah mendengar banyak berita di media sosial,” ujarnya.

Menurut Zulyanto, setelah menabrak Irna, pelaku ngotot melarikan mobilnya ke arah Lahei, meskipun tiga penumpang sudah meminta pelaku untuk berhenti. Salah seorang anggota Satpam PLN di sekitar Km 15 sempat membuntuti mobil pelaku, tetapi satpam itu berhenti setelah mobil masuk ke kampung, karena kuatir bila terjadi apa-apa, dia hanya seorang diri harus melawan empat orang yang ada di dalam mobil.

Zulyanto menambahkan, tersangka MA sempat bersembunyi selama dua jam di hutan, lalu mencari ojek untuk melanjutkan pelarian ke Muara Teweh, pada Sabtu (9/9) malam. “Dari Muara Teweh, pada Minggu (10/9) pagi dia melanjutkan pelarian ke Palangka Raya. Setelah berbicara dengan keluarga, dia disarankan untuk menyerahkan diri,” ucapnya.

Pihak Lantas Polres Barito Utara langsung melakukan pemeriksaan begitu MA menyerahkan diri ke Mapolres. Terhadap tersangka, polisi mengenakan pelanggaran Pasal 310 ayat (4) juncto Pasal 312 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. MA diancam pidana penjara maksimal enam tahun dan denda paling banyak Rp12 juta serta dicabut SIM. “Usai diperiksa, tersangka langsung ditahan,” kata Zulyanto.(lna/LD)

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.