RSUD Lakukan Penyuluhan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

PENYULUHAN – RSUD Kapuas lakukan penyuluhan terkait Penyakit Demam Berdarah (DBD) melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Kapuas dengan Frekuensi 91,4 FM, Rabu (03/10) yang lalu. (Hmskmf)

Kuala Kapuas, Dayak Pos

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kapuas yang pada kesempatan itu disampaikan langsung oleh dr. M. Bimo Harmaji melakukan penyuluhan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Kapuas dengan Frekuensi 91,4 FM, Rabu (03/10) yang lalu. Penyuluhan tersebut merupakan kegiatan rutin Promosi Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS).

Pada kesempatan itu dr. Bimo menerangkan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhagic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis (seperti Indonesia), dengan penyebaran yang mirip dengan malaria.

DBD merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang dapat menimbulkan kekuatiran karena perjalanan penyakitnya yang cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Ia juga menjelaskan bahwa penularan DBD umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Habitat nyamuk ini adalah pada air-air yang bersih (kolam, bak air/mandi terbuka). Meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes Albopictus yang biasanya hidup di kebun-kebun.

“Seorang yang di dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan DBD, virus ini berada dalam darah selama 4 – 7 hari. Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terisap masuk kedalam lambung nyamuk, selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk di dalam kelenjar liurnya. Kira-kira 1 minggu setelah menghisap darah penderita nyamuk tersebut siap menularkan kepada orang lain. Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya dan menjadi penular (Infektif),” bebernya.

Bimo mengungkapkan lebih lanjut, DBD pada umumnya menyerang anak-anak ≤ 15 Tahun, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan proporsi pada dewasa. Biasanya nyamuk Aedes Aegypti betina mencari mangsa pada siang hari. Aktifitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 – 10.00 dan pukul 16.00 – 17.00. .

Ia juga memaparkan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegepty, antara lain tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari seperti : drum, tangki, tempayan, bak mandi/wc dan ember, tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti : tempat minum burung, vas bunga, barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik,dll), dan tempat penampungan air alamiah seperti : lobang batu/pelepah daun, tempurung kelapa, potongan bambu.

Kemudian dijelaskan pula, untuk pencegahan, tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit DBD, pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau mengurangi vektor nyamuk DBD. Pemberantasan sarang nyamuk DBD adalah kegiatan memberantas telur, jentik dan kepompong nyamuk DBD di tempat-tempat pembiakannya.

“Cara Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD dilakukan dengan cara “3M” yaitu Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi atau WC, drum, dan lain-lain (M1). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti gentong air, tempayan dan lain – lain (M2),”jelasnya.

Kemudian, mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan (M3). Selain itu ditambah dengan cara lain yang disebut “3M Plus” , yaitu Mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar / rusak, menutup lubang pada potongan bambu / pohon dengan tanah, menaburkan bubuk Larvasida / Abate, memelihara ikan pemakan jentik di kolam / bak penampung air, serta Memasang kawat kasa. (Hmskmf)

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.