Komoditi tanaman karet (crumb rubber) dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) merupakan produk unggulan Kabupaten Barito Utara (Barut). Sebagian masyarakat di wilayah kabupaten ini juga berkecimpung pada perkebunan karet. Lahan kebun karet seluas 52.970 hektar di enam kecamatan diusahakan warga dengan menanam bibit karet lokal, karet asap maupun karet unggul, sedangkan perkebunan kelapa sawit mencapai 500 hektar. Ratusan hektar kebutnsawit ini murni diusahakan masyarakat di luar kelompok kemitraan maupun program revitalisasi kelapa sawit PT Antang Ganda Utama.
Karena alasan inilah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara di tahun kemarin mulai membangun pabrik karet dan CPO mini senilai Rp.5,3 Miliar. Nantinya pabrik karet ini akan berfungsi sebagai sarana pendidikan dan produksi karet bagi petani karet lokal Kabupaten Barito Utara.Alokasi dana sebesar 3 Miliar ditujukan bagi pembangunan fisik pabrik karet setengah jadi dengan kapasitas puluhan ton per hari, sementara untuk CPO nya Rp.2,3 Miliar berkapasitas lima ton per jam.
Pabrik Karet dan CPO tersebut di bangun di kawasan Kelurahan Jingah, Kecamatan Tewah dan dikelola Yayasan Batara melalui Perguruan Tinggi Politeknik Muara Teweh Barut karena memang pabrik karet tersebut jaraknya tidak terlalu jauh dengan lokasi pembangunan kampus Politeknik tersebut.
Bupati Barito Utara, Achmad Yuliansyah mengatakan, pembangunan pabrik karet dan CPO ini didanai dari dua sumber keuangan. Pertama adalah dana APBD Barito Utara untuk peningkatan sarana dan prasarana perguruan tinggi dan dana bantuan Dirjen Dikti sebesar 60,5 Miliar. Jadi anggaran pembangunan kampus sebagian dialokasikan untuk pembangunan Pabrik Karet dan CPO Barito Utara dengan target selesai pada tahun 2010 ini.
Bupati Barut juga menyatakan bahwa mahasiswa juga bisa memanfaatkan pabrik ini sebagai fasilitas praktek bagi program studi pengolahan hasil perkebunan, sekaligus untuk sarana produksi yang menerima hasil perkebunan karet dan kelapa sawit milik masyarakat.
Sedangkan untuk pola pemasaran, langsung ditangani mahasiswa dengan cara jemput bola, sehingga petani karet atau kelapa sawit tidak perlu datang ke pabrik. Dengan cara seperti ini maka kampus akan mengambil hasil panen kebun dan hasil panen langsung ke rumah warga karena selama ini petani masih tergantung pada tengkulak atau pihak ketiga sehingga menyebabkan harga penjualan produk mereka sering dipermainkan dan akibatnya para petani karet ini sulit untuk berkembang.
Pembangunan Pabrik Karet dan CPO di Kabupaten Barito Utara ini merupakan pancingan bagi investor atau perusahaan daerah yang mau dan tertarik menanamkan modal bagi pabrik skala sedang atau besar.
0 komentar:
Poskan Komentar